Melaksanakan kebaikan dalam rangka keta’atan kepada Allah SWT dilandasi Al-Qur’an dan Sunnah merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT kepada para hamba-Nya yang terpilih, oleh sebab kesungguhan dalam merespon dan menunaikan segala seruan Allah dan Rasul-Nya berdasarkan dua landasan tersebut, dari mulai memahami serta merealisasikannya dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan.
Orang-orang Sholeh pada kurun awal hingga pertengahan sejarah Islam, yaitu para sahabat Rasulullah saw, tabi’in dan tabi’ tabi’in merupakan contoh teladan bagaimana merespon dan menunaikan seruan Allah dan Rasul-Nya, wajar jika keagungan mereka dalam merealisasikan ajaran Agung ini menjadi tinta emas sejarah ummat Islam.
Membangun karakter pribadi yang responsive untuk berbuat dan berkarya dalam kebaikan membutuhkan sebuah proses. Proses paling utama yang harus dibangun dan dikokohkan adalah penghayatan terhadap nilai-nilai keimanan kepada Allah SWT dan kemudian bagaimana merealisasikannya secara sadar, baik dalam keadaan berat maupun ringan.
Inilah yang harus senantiasa wujud dalam hidup dan kehidupan kita sebagai bagian dari generasi ummat Islam pada kurun ini. Ini merupakan rahasia kebangkitan dan kemenangan ummat Islam, baik secara individu atau berjama’ah. Sebab keagungan dan ketinggian ajaran Islam ini dapat wujud manakala orang-orang yang menyandang identitas Islam tersebut mewujudkan ke-Agungan dan ketinggian agamanya.
Perintah Allah SWT Untuk Memenuhi Seruan Kebaikan
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (QS Al-Anfal : 24)
Dalam ayat di atas bagaimana Allah SWT menggambarkan bahwa yang hanya mampu memenuhi seruan Allah dan seruan Rasul-Nya adalah orang-orang yang beriman, itu merupakan syarat mutlak. Tidak ada dalam sejarah, orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dapat serta merta memenuhi seruan kebaikan dan keta’atan ini secara sadar, tanpa ada paksaan dan tendensi apapun.
Ketika Allah SWT memerintahkan sesuatu kepada hambanya yang beriman kemudian dita’ati, dibalik itu semua ada hal yang bermanfaat bagi “kehidupan” hamba tersebut. Kehidupan tersebut bisa berarti kemulian hidup di dunia, dengan hidupnya hati dengan cahaya kebenaran, sebagaiman firman Allah SWT :
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al – An’am : 122)
atau kehidupan di akhirat yang merupakan kemengan hakiki dengan mendapatkan surganya Allah SWT yang penuh dengan limpahan kenikmatan dan dijauhkan dari siksa api neraka, sebagaiman firman Allah SWT :
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (QS. Al-‘Imran : 185)
Pada ayat berikutnya Allah SWT menegaskan tentang otoritas-Nya dalam menentukan status seseorang dihadapan-Nya, apakah dia termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk atau sebaliknya, sesat atau dimurkai. Ketika berbicara tentang status seseorang apakah dia beriman, kafir atau munafiq, semua itu bermuara pada Hati,“…dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”.
Hati setiap manusia pada hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT, Dia pulalah yang dapat menentukan kearah mana Hati itu ditujukan, apakah Hati yang selalu mendapatkan hidayah Allah SWT atau Hati yang senantiasa dijauhkan hidayah Allah SWT.
Imam At-thabari berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan berita dari Allah SWT bahwa Dia lebih berhak atas kepemilikan Hati para hamba-Nya dari pada mereka sendiri. Bahwa Allah SWT juga bisa menjadi hijab antara mereka dengan Hati itu, hingga seseorang tidak tahu apa-apa, kecuali dengan kehendak-Nya.
Rasulullah saw sebagai Nabi Allah SWT, yang jaminan dari dosa dan kesalahan selalu berdo’a dengan penuh pengharapan agar senantiasa dikuatkan hatinya oleh Allah SWT dalam Islam dan Iman :
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan Hati, kokohkanlah Hati kami dalam agama-Mu !, Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mengkhawatirkan kami ?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Hati itu berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-rahman, Dialah yang membolak-balikkan sekehendak-Nya.” (Hadits Riwayat Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Artinya, cepat sekali Allah membalikkan hati bahkan lebih cepat dari tiupan angin dalam membalikkan sifat-sifat yang bertentangan. Misalnya, menerima dan menolak, menginginkan dan membenci, juga sifat-sifat lainnya.
Oleh karena itu, tidak satupun manusia yang mengaku beriman di dunia ini yang “merasa aman dengan ke-Imanannya”, sebagaimana firman Allah :
“Maka apakah mereka merasa aman dari makar (tipu daya) Allah ? Tiada yang merasa aman dari makar (tipu daya) Allah, kecuali oarng-orang yang merugi”. (QS. Al – A’raaf : 99)
Dalam atsar disebutkan bahwa ketika Iblis mempunyai makar, saat itu masih menjadi bagian dari malaikat, segeralah Jibril dan Mikail menangis dan Allah bertanya, 'Apa yang membuat kalian berdua menangis ? Mereka berdua menjawab, Ya Rabb, kami tidak merasa aman dari makar-Mu. Lalu Allah berfirman, Demikianlah semestinya kalian, janganlah kalian merasa aman dari makar-Ku.
Bagi yang merasa terpanggil dengan ke-Imanannya, memenuhi seruan Allah dan Rusul-Nya adalah cara paling tepat yang dapat menjadikan hidupnya Hati dengan cahaya petunjuk-Nya, penerang jalan, pembuka tabir kebenaran yang Insya Allah akan menjauhkan kita dari rasa aman dari makar Allah SWT.
Merespon dan Memenuhi Seruan Yang Wajib dan Sunnah
Salah satu wujud dari bentuk respon dan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya bagi orang-orang yang ber-Iman adalah bergegas ke Masjid ketika suara adzan dikumandangkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah, ketika memang tidak ada sama sekali halangan syar’i (udzur).
Kita telah memahami bahwa sholat merupakan salah satu diantara sekian perintah Allah SWT yang diwajibkan bagi setiap individu Muslim yang telah baligh karena sholat merupakan tonggak agama bagi individu tersebut, dan sholat juga merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Sedangkan perintah untuk melaksanakan di Masjid merupakan instruksi Allah SWT langsung, sebagaimana firmannya :
“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku” (Al-Baqarah : 43)
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali karena udzur” (Hadits Riwayat Ibnu Majah). Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang dimaksud dengan udzur tersebut?” ia menjawab, “Rasa takut (tidak aman) dan sakit”
Syaikh bin Baz mengatakan (Tabshirah wa Dzikra) : “Telah sampai khabar kepada saya, bahwa banyak orang yang menyepelekan pelaksanaan shalat berjama’ah, mereka beralasan dengan adanya kemudahan dari sebagian ‘ulama. Maka saya berkewajiban untuk menjelaskan tentang besarnya dan bahayanya perkara ini, dan bahwa tidak selayaknya seorang Muslim menyepelekan perkara yang diagungkan Allah di dalam KitabNya yang agung dan diagungkan oleh RasulNya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Ketika seruan adzan dan menegakkan sholat berjama’ah (bagi laki-laki) telah dilalaikan tanpa adanya udzur yang pasti dan jika ini terus berlanjut, disadari atau tanpa disadari telah terurailah satu jalan kebaikan bagi seseorang hamba untuk mendapatkan petunjuk Allah SWT, karena memenuhi seruan adzan dan shalat berjama’ah merupakan salah satu “Sunanul Hudaa” (Jalan menuju kepada hidayah Allah SWT).
Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku telah menyaksikan, kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya atau orang sakit. Bahkan yang sakit pun ada yang dipapah dengan diapit oleh dua orang agar bisa ikut shalat (berjama’ah)”. Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sunanul huda, dan sesungguhnya di antara sunanul huda itu adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan”. (Hadits Riwayat Muslim).
Sudah jelas bagi kita, sebuah arahan dari sahabat Rasulullah saw yang mulia tentang sebuah jalan kebaikan diantara sekian jalan menuju kebaikan, kemudian menempuh jalan tersebut dan menjaganya dalam keseharian, hingga dia wujud sebagai kebiasaan baik (habit) yang selalu lekat dalam hidup dan kehidupan. Satu langkah ditapaki, semoga Allah SWT memudahkan dilangkah berikutnya dengan membukakan sunanul huda yang lain.
Banyak hal terkait dengan pembahasan keutamaan sholat wajib dan pelaksanaannya secara berjama’ah di Masjid didukung referensi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw yang harus dipelajari dan difahami, itu merupakan modal kita agar tumbuh sikap responsive dalam memenuhi salah satu seruan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Terkabulnya Permohonan, Pertolongan Dan Kemenangan Dari Allah SWT
Memenuhi seruan Allah SWT dan Rasul-Nya disetiap waktu dan kesempatan merupakan tanda kuatnya Iman dalam diri setiap Muslim. Dalam bentuk apapun seruan tersebut, dari seruan yang paling ringan hingga yang terberat, dari perkara kecil hingga besar, secara otomatis connect (tersambung) ibarat knop tombol ditekan, semua instrumen mekanik teraliri daya listrik bertanda dimulainya sebuah aktifitas produksi pada sebuah pabrik.
Sudah menjadi sunnatullah (ketentuan Allah SWT) semua jerih payah, perjuangan dan pengorbanan kita demi mengharapkan keridho’an Allah SWT ada harga yang harus diganti, ada kompensasi, ada reward (balasan) dari itu semua. Sekecil dan sebesar apapun kontribusi kebaikan yang kita telah lakukan dilandasi ke-Ikhlasan, Allah SWT akan gantikan dengan yang terbaik.
Bisa jadi kehendak dan harapan kita dikabulkan, pertolongan Allah SWT menjadi kenyataan, disaat-saat kita membutuhkan pertolongan yang dapat meringankan kita dari sebuah penderitaan yang mana tidak ada pertolongan selain dari pertolongan-Nya, atau kemenangan kaum Muslimin dalam memperjuangkan harga diri, tanah air dan Agamanya dari rongrongan orang-orang kafir yang menginginkan mereka untuk hidup terus terjajah dan tertindas. Tentunya itu merupakan timbal balik dari respon dan semangat untuk menunaikan seruan Allah SWT dan Rasul-Nya yang dilakukan oleh setiap Muslim baik secara individu atau berjama’ah, firman Allah SWT:
“Dan Dia memperkenankan (do’a) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras”. (QS. Asy-syura : 26)
“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sungguh Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS. Al-anfal : 9).
Wallahu a’lam bishawaab.